BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Di zaman kuno penyakit yang diderita manusia sering dikaitkan dengan gejala-gejala spiritual. Seorang penderita sakit dihubungkan dengan adanya gangguan dari ruh jahat oleh semacam makhluk  halus dan pengobatan penyakit dikaitkan dengan gejala ruhami manusia.

Sebaliknya, di dunia modern penyakit manusia didiagnose berdasarkan gejala-gejala biologis. Makhluk-makhluk halus yang diasumsikan sebagai ruh jahat di masyrakat ternyata dengan penggunaan perangkat medis modern dapat dideteksi dengan mikroskop, yaitu beberapa kuman dan virus. Kepercayaan ini sebagian besar memang dapat dibuktikanoleh keberhasilan pengobatan dengan menggunakan peralatan dan pengobatan hasil temuan dibidang kedokteran modern.

Sejak munculnya psikoanalisi, para psikoanalisi mencoba menyembuhkan penyalit mental dengan menggunakan metode hipnosa. Menurut Sigmund Freud, penyakit mental disebabkan oleh gejala tertekan yang berada pada lapisan ketaksadaran jiwa manusia. Dengan menyadarkan kembali gejala tersebut maka pasien dapat disembuhkan.

Agama dapat memberi dampak yang cukup berarti dalam kehidupan manusia, termasuk dalam kesehatan. Agama memiliki peran besar dalam perubahan sosial, sementara itu agama juga menunjukkan kemampuan adaptasi dan vital dalam berbagai segi kehidupan sosial, sehingga perubahan-perubahan dalam struktur dalam skala besar tak jarang berakar dari pemahaman terhadap agama.

  1. 2. Rumusan masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan kesehatan mental?
    2. Apa hubungan antara kejiwaan dan agama?
    3. Bagaimana pengaruh agama terhadap kesehatan mental?
  2. 3. Hipotesis
  3. Kesehatan mental adalah suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram. Upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan melalui penyesuaian diri secara  resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan).
  4. Hubungan antara kejiwaan dan agama terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa bahagia , senang, puas, sukses, merasa dicintai atau merasa aman.
  5. Penemuan Muhammad Abd Al-Qadir seorang ulama dan ahli biokimia, memberi bukti akan adanya hubungan antara  keyakinan agama dan kesehatan jiwa. Menurutnya, terjadinya pergeseran dari kondisi normal ke daerah yang tidak normal sangat bergantung dari derajat keimanan yang tersimpan dalam diri manusia, di samping faktor susunan tubuh serta dalam atau dangkalanya rasa dan kesadaran manusia itu.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Manusia Dan Agama

Psiklogi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus  para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan kejiwaan manusia. Agama menurut Sigmund Freud tampak dalam perilaku manusia sebagai simbolisasi dari  kebencian terhadap ayah yang direfleksi dalam bentuk rasa takut kepada tuhan. Secara psikologis agama adalah ilusi manusia. Segala bentuk perilaku keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul dari dorongan  agar dirinya terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman. Untuk keperluan itu manusia menciptakan tuhan dalam pikirannya. Menurut pandangan aliran behaviorisme manusia berprilaku agama karena didorong oleh rangsangan hukuman (siksaan) dan hadiah (pahala).

Barangkali yang lebih jelas membahas perilaku keagamaan adalah psikologi humanistik. Menurut Abraham Maslow, salah seorang pemuka psikologi humnistik yang berusaha memahami segi esoteric (ruhani) manusia. Maslow menyatakan bahwa kebutuhan manusia memiliki kebutuhan yang bertingkat dari yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling puncak. Pertama, kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar  untuk hidup seperti makan, minum istirahat dan sebagainya. Kedua, kebutuhan akan rasa aman yang mendorong orang untuk bebas dari rasa takut dan cemas. Kebutuhan ini dimanifestasikan antara lain dalam bentuk tempat tinggal yang permanen. Ketiga, kebutuhan akan rasa kasih sayang , antara lain pemenuhan hubungan antara manusia.keempat, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan ini dimanifestasikan manusia dalam bentuk aktualisasi diri antara lain dengan berbuat sesuatu yang berguna. Pada tahap ioni orang ingin buah pikirannya dihargai.

Pendekatan berikutnya adalah yang dikemukakan Victor Frankle pendiri aliran logoterapi. Menurutnya, eksistensi manusia ditandai oleh tiga faktor, yakni Spirituality (keruhanian), freedom (kebebasan), dan responsibility (tanggung jawab).

Agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama agaknya dikarenakan faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Manusia ternyata memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Zat Yang Maha Gaib.  Ketundukan ini merupakan bagian dari faktor intern manusia yang dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (self) ataupun hati nurani (conscience of man)

Agama sebagai fitrah manusia telah diinformasikan Allah dalam Al-Qur;an :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada  fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.(QS 30:30)

Muhammad Ali As-Shobuny, menafsirakannya menjadi sikap ikhlas dan tunduk kepada Islam  sebagai agama Allah dan menjadikan kecenderungan untuk tunduk kepada agama yang benar, yaitu islam. Dan allah menjadikan pada diri manusia untuk tunduk kepada fitrah tauhid.

  1. B. Agama dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental

Kesehatan Mental adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa aman, tenang dan tentram. Menurut H.C. Witerington, permasalahan kesehatan mental menyangkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam psikologi, kedokteran, psikiatri, biologi, sosiologi dan agama.

Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabadanan) yang bermaksud untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erta antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah dan sebagainya, maka badan turut menderita.

Penemuan Muhammad Abd Al-Qadir seorang ulama dan ahli biokimia ini, setidak-tidaknya memberi bukti akan adanya hubungan antara  keyakinan agama dan kesehatan jiwa. Menurutnya, terjadinya pergeseran dari kondisi normal ke daerah yang berbahaya itu sangat bergantung dari derajat keimanan yang tersimpan dalam diri manusia, di samping faktor susunan tubuh serta dalam atau dangkalanya rasa dan kesadaran manusia itu.

Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah akan memberi sikap  optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa bahagia , senang, puas, sukses, merasa dicintai atau merasa aman.

Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi Humanistikal dikenal logoterapi (logos berarti makna dan juga ruhani). Logoterapi dilandasi falsafah hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi sosial pada kehidupan manusia. Logoterapi menitikberatkan pada pemahaman bahwa dambaan utama manusia yang asasi atau motif dasar manusia adalah untuk hidup bermakna atau keinginan manusia untuk memiliki kebebasan dalam menemukan makna hidup. Adapun makna hidup adalah hal-hal yang memberikan nilai khusus bagi sesorang , yang bila dipenuhinya akan menjadikan hidupnya lebih bermakna dan akhirnya akan menimbulkan penghayatan bahagia. Dalam logoterapi dikenal dua peringkat makna hidup, yaitu makna hidup peribadi dan makna hidup paripurna.

Makna hidup paripurna bersifat mutlak dan universal, serta dapat saja dijadikan landasan dan sumber makna hidup peribadi. Suatu ketika dalam keadaan tanpa daya , manusia akan kehilangan pegangan dan bersikap pasrah. Dalam kondisi ini ajaran agama paling tidak akan membangkitkan makna dalam hidupnya. Makna hidup peribadi menurut logoterapi hanya dapat ditemukan sendiri.

Selanjutnya logoterapi menunjukkan  tiga bidang kegiatan yang secara potensial member peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Ketiga kegiatan itu adalah :

  1. Kegiatan berkarya, bekerja dan mencipta serta melaksanakan dengan sebaik-baiknya tugas dan kewajiban masing-masing.
  2. Keyakinan dan penghayatan atas anilai-nilai tertentu( kebenaran, kenindahan, kebajikan, keimanan dan lainnya).
  3. Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak terelakkan lagi.

Dalam menghadapi kondisiyang ketiga menurut logoterapi, maka ibadah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuka pandangan seseorang akan nilai-nilai potensial dan makna hidup yang terdapat dalam diri dan sekitarnya.

  1. C. Terapi Keagamaan

Ahli psikiatri mengakui bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu (Jasmani, ruhani dan sosial) yang diperlukan untuk melangsungkan  proses kehidupan secara lancar. Seseorang yang tak mampu menahan keinginan bagi terpenuhinya kebutuhan dirinya akan terjadi pertentangan (Konflik) dalam batin dan akan menimbulkan ketidak seimbangan dalam kehidupan ruhani yang dalam kesehatan mental disebut kekusutan ruhani (Kekusutan fungsional).

Kekusutan fungsional ini bertingkat yaitu psychopat, psychoneurose, dan psikotis. Psychoneurose ditandai bahwa  seseorang tidak mengikuti tuntutan-tuntutan masyarakat. Pengidap psychoneurose menunjukan perilaku menyimpang. Sedangkan, penderita psikotis dinilai mengalami kekusutan mental yamg berbahaya sehingga memerlukan perawatan khusus.

Pendekatan terapi keagamaan dapat dirujuk dari informasi Al-Qur’an surah Yunus dan surah Isra.

Wahai manusia sudah datang dari Tuhanmu Al-Qur’an yang mengandung pengajaran, penawar bagi penyakit batin (jiwa), tuntutan serata rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus ; 57)

Dan kami turnkan Al-Qur’an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Isra ; 82)

Kesehatan mental adalah suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram. Upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan melalui penyesuaian diri secara  resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan).

  1. D. Musibah

Berdasarkan asal katanya musibah berarti lemparan (arramyah). Menurut Al-Qurtubi musibah adalah apa saja yang menyakiti dan menimpa diri seseorang atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia betapapun kecilnya.

Musibah dapat dibagi dua macam. Pertama musibah karena ulah manusia sendiri atau dikenal dengan hukum karma.kedua Musibah sebagai ujian dari Tuhan.

Keyakinan terhadap Tuhan, akan memberikan rasa damai dalam batin. Kedamaian dan keselamatan merupakan bagian dari insting mempertahankan diri yang ada dalam diri manusia.

  1. E. Kematian

Kematian membawa manusia ke alam kehidupan baru, yang sama sekali asing. Tempat tinggal megah tergusur, pindah ketempat yang baru yakni kubur. Dibiarkan hidup sendiri dalam kesepian alam penantian “barzakh”. Menanti masa evakuasi kea lam berikutnya, yakni alam akhirat.

  1. 1. Kematian dalam Agama

Setiap agama mengajarkan tentang adanya hari kebangkitan Alam baru dalam kehidupan lain yang akan dialami manusia setelah mati. Dipercayai bahwa pada saat itu manusia akan diminta pertanggungjawabannya selama hidup.

Adanya hari kebangkitan ini tampaknya sudah merupakan bagian dari keyakinan dalam diri setiap manusia. Apapun latar belakang keyakinan dan agamanya. Keyakinan akan hari kebangkitan tampaknya  tumbuh dari kesadaran batin manusia.

Secara psikologis keyakinan akan adanya hari kebangkitan akan berdampak pada sikap dan prilaku manusia, baik dalam kehidupan individu maupun sosial.besar kecilnya dampak keyakinan tersebut tergantung  dari tingkat penghayatan masing-masing

  1. 2. Psikologi Kematian

Secara psikilogis manusia usia lanjut terbebankan oleh rasa “ketidakberdayaan”. Kelemahan fisik, keterbatasan gerak dan menurunnya fungsi alat indera, menyebabkan manula merasa terisolasi. Mulai merasa adanya rasa kekosongan batin. Di kala itu, penghayatan terhadap segala yang terkait dengan nilai-nilai spiritual mulai menjadi perhatian. Kegelisahan dan kekosongan  batin seakan jadi terobato oleh keakraban dengan aspek-aspek ruhaniah ini. Hati merasa lebih tenteram dan terobati oleh kedekatan hal-hal yang bersifat sakral.

Kekosongan batin akan kian terasa bila dihapakan pada peristiwa-peristiwa  kematian. Terutama bila dihadapkan pada kematian orang-orang yang terdekat atau paling dicintai. Muncul semacam rasa kehilangan yang terkadang begitu berat dan sulit di atasi.

Nilai-nilai agama menyadarkan manusia  akan status diri mereka. Menyadarkan manusia akan dirinya selaku makhluk ciptaan tuhan. Hidup dan kehidupannya sepenuhnya tergantung kepada Sang Pencipta. Disadarkan bahwa kepemilikan manusia hanyalah sebagai titipan dan amanat. Dengan adanya kesadaran dan keterbatasan diri, diharapkan beban batin akan tercerahkan.

Dalam konsep ajaran Islam, misalnya, kesadaran tersebut dibangkitkan, antara lain melalui perenungan akan Firman Allah dalam Al-Qur’an  “Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) apabila ditimpa musiabah, mereka mengucapkan “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”.

Sikap batin seperti ini akan member pengaruh Psikologis. Secara biokimia, penyerahan diri secara tulus kepada Allah, ternyata ikut meningkatkan produk adrenalin dalam tubuh. Ada hubungan langsung antara nilai-nilai imani dengan proses biokimia tubuh. Cairan adrenalin menimbulkan sikap optimis, emjadikan manusia berpikir positif dan tidak larut dalam kegundahan. Menilai segala sesuatu dengan pikiran yang jernih dan penuh rasa percaya diri.

Fitrah suci manusia yang berintikan kebenaran, kebaikan dan keindahan. ,mereka yang ketika hidupnya terbiasa melakukan perbuatan yang menyalahi fitrah suci itu akan mengalami kegelisahan batin. Secara psikologis, rasa bersalah itu akan mendera dirinya.

Sebaliknya, mereka yang hidup shaleh akan menyikapi kematian dengan suasana batin yang lebih tenang. Bagi penganut agama, sikap dalam menghadapi kematian lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai imani. Mereka yang merasa dirinya telah berbuat kebajikan, sesuai dengan tuntutan ajaran agama, akan lebih tenang dalam menghadapi kematian. Tidak demikian halnya sikap para pendosa saat mengahadapi kematian.

BAB III

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

Psiklogi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus  para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan kejiwaan manusia. Agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama agaknya dikarenakan faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Kesehatan Mental adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa aman, tenang dan tentram.

Fitrah suci manusia yang berintikan kebenaran, kebaikan dan keindahan. ,mereka yang ketika hidupnya terbiasa melakukan perbuatan yang menyalahi fitrah suci itu akan mengalami kegelisahan batin. Secara psikologis, rasa bersalah itu akan mendera dirinya. Sebaliknya, mereka yang hidup shaleh akan menyikapi kematian dengan suasana batin yang lebih tenang. Bagi penganut agama, sikap dalam menghadapi kematian lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai imani.

  1. B. SARAN-SARAN

Bertitik tolak dari hasil pembahasan, maka dapat dikemukakan saran-saran yang kiranya berguna dalam kehidupan sebagai makhluk yang beragama :

  1. Membentuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kemampuan dibidang psikologi agama secara benar.
  2. Meningkatkan kesadaran diri akan statusnya sebagai makhluk ciptaan Allah.
  3. Mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan hari pembalasan dengan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar Takwa.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, H. 2008. Psikologi Agama. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: